Latest Post

Koran Tulisan Tangan

Written By marbun on Tuesday, April 29, 2008 | 5:55 PM

Chennai: At the office of 'The Musalman', the oldest Urdu daily in the country, and possibly the only handwritten newspaper in the world, no one has ever quit. They work, says Rahman Husseini, the chief katib or copywriter of the paper, till they pass on. Rahman joined the Urdu daily more than 20 years ago as an accountant, learnt calligraphy, and when the then chief katib passed away at the age of 80, he took over the front page of 'The Musalman' and has been working on it since, earning Rs 2,500 a month.

It is the same story with the reporters, the production staff, the distribution staff and everyone else at this newspaper office. "We are all family," says Rahman. "Even bhai worked here till the end of his life."

When he says bhai, Rahman is referring to Janab Syed Fazullah Sahib, the editor of the paper, who died on April 26 this year at the age of 78. Syed Fazullah had taken over the hand-written paper from his father Syed Azmathullah, who was also the founder of the daily.

Nothing much has changed at the newspaper's Triplicane High Road office since its inception in 1927. 'The Musalman', an evening paper, has always been handwritten — all four pages of it — everyday, not a single day missed in all 81 years. The calligraphers still work in a dingy little corner of the 800 square foot one-room office that also houses the printing press, as they have been doing for years. There is no airconditioning in their corner, just two wall fans. In terms of ventilation, it all comes through the narrow front door. Lighting is three bulbs and a tubelight.

Even the editor's room is a still from a bygone era. Papers stacked everywhere, a solitary fax machine in the corner, lots of files and ledgers, not a single computer or typewriter anywhere. For the next 36 days though, the newspaper will have no editor, says Aarif, who is Syed Fazullah's youngest son. "I am looking after the paper while my brothers take care of the funeral arrangements. We are not allowed to decide anything till the 40th day is over, so we have no editor. But the paper has come out every single day," he says.

The katibs, one man and two women, work almost three hours on each page, writing out by hand the headlines and news reports in Urdu, then sticking on the advertisements, sending the pages in for plating and then for printing. When one of them is ill, the others work overtime to bring out the paper. If there is a mistake, sometimes the entire page has to be rewritten.

The front page is always for national and international news, the second and third for local news and the fourth for sports. One square of space is always left blank at the bottom right corner of the front page, says Rahman, in case there is breaking news. "But we only carry it if the breaking news happens by 3 pm as we still have to write it down by hand and then get it printed to reach the houses on time." The paper is also sold on the streets every evening for 75 p a copy.

"We have correspondents all over the country," says Aarif. "In New Delhi, Kolkata, Hyderabad etc. They fax us their stories or call and tell us and we write it."

For the 22,000 subscribers of the paper, 'The Musalman' is the only newspaper as they cannot read any other language but Urdu, says Aarif and though the number of subscribers is reducing in Chennai, it's going up in certain interior parts of Tamil Nadu. Profits are down, he adds with a sigh, but it's not stopping them.

Ada Yang Bisa Menjawab?? Ingin Investasi Jangka Panjang.. Bingung

Written By marbun on Saturday, April 19, 2008 | 10:42 PM

Ada-aa saja memang manusia ini... Di saat ekonomi terpuruk ada saja hamba Allah yang mempunyai keistimewaan dengan limpahan rizki.

Sebuah email melayang ke penulis.. isinya sebuah pertanyaan yang mirip sebuah konsultasi ekonomi. Jawabannya mungkin sangat mudah, tapi sulit untuk mengutarakannya.

Bentuk pertanyaannya begini:

Saya dari keluarga sederhana, keluarga kami hidup sangat sederhana. kami merasa nikmat Allah itu, walau sederhana tapi cukup untuk dinikmati.

Kami telah membuat rencana keuangan rumah tangga yang jelas. Beberapa kebutuhan dan cita-cita telah kami cover dengan berbagai rencana. Mulai dari biasay kehidupan sehari-hari, uang sekolah dan kuliah anak-anak, rumah, sumbangan sedekah bulanan, asuransi pendidikan, tabungan, investasi jangka pendek dan lain-lain yang wajib dan sunnah.

Semuanya Alhamdulillah sudah ter-cover. Kebetulan kami sekeluarga tidak mempunyai keinginan yang muluk-muluk sehingga tidak terlalu butuh biaya yang sangat besar.

Karena masih ada sisa dana, terbesit dipikiran kami untuk investasi jangka panjang dengan resiko tinggi tapi dengan syarat di jalan Allah?? Dimanakah kami bisa menemukan perusahaan investasi dengan model semacam ini????

Kami tidak butuh sisa bagi hasil yang besar, segera dan instan. Tapi kami juga tidak butuh uang kami disalahgunakan begitu saja... seperti koperasi-koperasi yang menilep uang anggotanya.

Perusahaan tersebut harus Islami dan menginvestasikan dana tersebut dibidang-bidang usaha padat modal dengan kemungkinan mendapat bagi hasil jangka panjang. Misalnya 30-50 tahun.

Bidang-bidangnya misalnya usaha yang membawa nama Indonesia menjadi negara yag besar dan pemilik dan managementnya harus orang Islam yan amanah dan jujur.

Bidang-bidang itu misalnya, pengembangan dirgantara semisal IPTN, mobil nasional seperti mobil listrik murah yang pernah dalam berita, internet masuk desa, telekomunikasi, ISP islami, satelit, tambang, Badan Usaha sakala nasional dan internasional milik orang Islam, manufaktur modern dan lain-lain.

Perusahaan tersebut juga harus mampu mendorong majunya pengusaha-pengusha Islam di bidng-bidang yang memungkinkan Indonesia dan Islam tidak dipandang sebelah mata. Sisa dana kami memang tidak besar, tapi kami yakin ada banyak orang ummat di sana yang bernasib sama dan berpengharapan yang smaa dengan kami. Dengan penggalanan dana massa kami yakin bisa membantu Islam dan negara.


Wassalam


Saat membaca surat seperti ini, kayaknya sulit untuk menjawabnya dimanakah perusahaan investasi Islam yang amanh dan jujur itu, dengn misi untuk membangun negara dan agama?? Adakah yang pembaca yang bisa menjawabnya..?







Program Pesantren Robotik

Written By marbun on Tuesday, April 08, 2008 | 9:20 AM


NFBS Robotic Programming

Pembelajaran elektronika di NFBS kini akan menjadi lebih menarik. Alhamdulillah, saat ini kami sudah memiliki sebuah Robot dari LEGO Mindstrom NXT. Siswa yang tertarik untuk mempelajarinya bergabung dengan Ekskul Elektronika. LEGO Mindstrom NXT merupakan sebuah hardware robot. Dimana kita dapat belajar desain struktur ketika menyusun balok-balok dalam LEGO, karena LEGO memberikan ruang kreatifitas yang cukup lebar bagi para pemakainya Selain itu.kita dapat pemrograman yang paling mudah sampai pemrograman yang cukup rumit. Pemrograman yang sangat mudah dapat kita temukan dengan menggunakan Software bawaan dari LEGO. Dengan software ini, siapapun bisa menggunakannya, sekalipun anak SD, karena ada tutorial per langkah, yang disertai gambar setiap kita mau memilih aksi yang akan dilakukan.
Misalkan kita mau mencoba Robot yang bisa berhenti untuk mendeteksi suara, maka kita akan dapat melihat simulasi robot yang jadi setelah kita program lewat panel bagian kanan, yaitu di bagian Challenge Brief. Di bagian ini, kita dapat melihat apa yang akan dilakukan oleh Robot, seandainya kita mau merakitnya. Misalkan mendeteksi suara, parkir, bergerak ketika ada suara, berputar ketika ada cahaya, dsb.
Sedangkan tutorial di bagian Programming Guide, kita dapat melihat cara memprogramnya langkah per langkah, tinggal kita mengklik bagian langkahnya (1/8), maka kita akan melihat apa yang perlu diambil dari blok sebelah kiri. Jadi, bagian kiri adalah bagian tempat kita merancang program, sedang bagian kanan adalah tutorialnya. Software ini memang sangat mudah, karena memang dirancang agar dapat digunakan oleh anak-anak, tanpa harus berpikir secara rumit. Namun, software ini juga dapat dikembangan sesuai keinginan kita sehingga dapat membentuk sebuah perilaku robot yang kita inginkan.
Alternatif kedua bagi kita yang ingin mengembangkan robotica adalah dengan mempelajari Microsoft Robotics Studio, yang memang dirancang untuk berbagai jenis robot. Software ini juga menyediakan simulasi yang dapat kita lihat seandainya kita merancang program tersebut. Kita dapat menggunakan VPL (Visual Programming Language) atau bahasa C, untuk memprogram robot kita.

foto-foto lainnya





Sekilas Pesantren Teknologi Riau (PTR)

Dalam rangka mencetak Sumber Daya Manusia yang handal, Pemerintah Provinsi Riau melakukan berbagai program positif, diantaranya empat sekolah dipastikan mendapat binaan dari Pemerintah Provinsi Riau.


Demikian diungkapkan Kasubdin Pengembangan SMU/SMK, Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Drs.Maskur dalam wawancara dengan Reporter Ragam Info, Kamis (22/2) disela-sela acara seminar sehari bedah proyek multiyears se-Riau di Hotel Sahid Pekanbaru.


Dikatakan, keempat sekolah yang beruntung mendapatkan binaan dari Pemerintah Provinsi Riau, pertama, SMU Plus yang sudah berjalan beberapa tahun belakangan ini; kedua, SMPP (Sekolah Menengah Penyuluh Pertanian); ketiga, PTR (Pesantren Teknologi Riau) dan keempat, SMU Keolahragaan.


Dari keempat sekolah tersebut, yang sudah berjalan baru tiga sekolah, sedangkan satu sekolah lagi yakni, SMU keolahragaan masih dalam tahap perencanaan.


Mudah-mudahan, dalam waktu dekat ini pembangunan sekolah SMU Keolahragaan dapat terwujud. “Kita menargetkan pada tahun pelajaran 2008 SMU Keolahragaan sudah bisa menerima anak didik,” ujar Maskur.


Adanya rencana mendirikan sekolah SMU Keolahragaan, kata Maskur mengingat pada tahun 2012 Riau akan menjadi tuan rumah PON XVIII,untuk itu dalam mempersiapkan atlet, Pemprov Riau tidak akan main-main lagi dan akan berusaha mencari atlet dari binaan sendiri.


“Karena atlet binaan sendiri jauh lebih membanggakan, dari pada atlet yang didatangkan dari luar daerah (kontrak),” ungkapnya.


Selain itu kepada para anak didik, kata Maskur, dapat lebih leluasa memilih sekolah mana yang hendak dituju, karena dari empat sekolah tersebut bidangnya lain-lain, misalnya SMU Plus diperuntukkan untuk sekolah bidang umum, SMPP, diperuntukan bagi anak didik yang menggemari kejuruan dibidang pertanian, sedangkan Pesantren Teknologi Riau, diperuntukkan bagi anak didik yang ingin menimba ilmu pada bidang keagamaan dan SMU keolahragaan, diperuntukan bagi siswa yang mempunyai bakat bidang keolahragaan.


Sementara itu perencanaan pembangunan sekolah olahraga tersebut akan di bangun di areal sport center Rumbai Pekanbaru, dengan anggaran 3 milyar Rupiah.





Madrasah Aliyah Internasional

Departemen Agama RI akan membangun Madrasah Aliyah Internasional di Dumai. Pembangunan fisik madrasah tersebut akan dimulai tahun 2008 di atas lahan seluas 20 hektare.

Hal itu diungkapkan Kepala Kantor Wilayah Departemen agama Provinsi Riau Drs H Abdul Gafar Usman MSc kepada Dumai Kota Online, kemarin. Menurutnya, pembangunan madrasah bertaraf internasional ini merupakan jawaban atas banyak tantangan bagi pendidikan keagamaan.

‘’Bila selama ini pendidikan madrasah selalu dianggap pilihan nomor dua setelah sekolah umum negeri, maka sekarang kita juga menyediakan madrasah dengan taraf internasional dengan standar lulusan internasional pula,’’ kata Gafar. Menurut Gafar, pembangunan madrasah bertaraf internasional ini memang sangat mendesak.

Apalagi, untuk menciptakan generasi muda berkualitas dan mampu bersaing di gelanggang dunia, tidak cukup hanya dengan kurikulum dan sistem pendidikan biasa. ‘’Kalau ingin menciptakan generasi muda berkelas dunia, maka harus dididik di kelas dunia pula,’’ kata Gafar.





Mengapa dipilih Dumai? Gafar menjawab, secara geografis Dumai berada di posisi paling strategis. Dekat dengan negara tetangga dan jalur internasional, serta rencana peningkatan status Dumai sebagai Special Economic Zone (SEZ).

Status itu sangat berpengaruh dalam penciptaan tenaga berilmu dan berakhlak. Karena lingkungan dinamis dan dihuni multibangsa, akan mempermudah penciptaan lulusan berkelas dunia pula. Gafar juga menyebutkan, madrasah internasional ini diharapkan menjadi penyeimbang wilayah Dumai yang menjadi SEZ. ‘’Kalau kemajuan Dumai dengan status SEZ-nya tak diikuti pembangunan karakter berilmu, berakhlak, bisa jadi perkembangan Dumai tak akan terkontrol,’’ kata Gafar.

Disebutkan, sebenarnya Depag sudah membangun beberapa madrasah di Riau bertaraf nasional. Seperti Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Pekanbaru, Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Teknologi Riau, dan MTSn Kuok. Dengan peningkatan status ini dan pemantapan sistem yang dilakukan di pendidikan madrasah, saat ini sudah banyak prestasi diraih. Secara umum, madrasah di Riau sudah berada di peringkat ketiga di seluruh Indonesia.

‘’Kita juga melihat berbagai prestasi menggembirakan, baik di bidang keilmuan umum, terlebih ilmu agama. Siswa kita juga termasuk paling banyak diterima kuliah di Madrasah Internasional Insan Cendekia Jakarta, dan juga berbagai perguruan tinggi favorit yang ada di Indonesia. Insya Allah, paling lambat sepuluh tahun lagi kita akan melihat perubahan besar pada paradigma dunia pendidikan keagamaan,’’ kata Gafar.

Masing-masing Satu
Selain itu, Depag juga sudah mengeluarkan instruksi agar di setiap kabupaten dan kota di Indonesia, harus mempunyai salah satu sekolah agama unggulan dengan taraf minimal nasional dan statusnya dinegerikan. Boleh Madrasah Aliyah, Madrasah Tsanawiyah, atau Madrasah Ibtidiyah. Ini sangat penting dilakukan agar kualitas madrasah dan lulusannya bisa setaraf dan atau lebih baik dari sekolah umum lainnya. ‘’Kita sudah menjajaki beberapa kabupaten untuk menyediakan madrasah bertaraf nasional di kabupaten dan kota. Beberapa di antaranya sudah menyatakan kesediaannya. Seperti Indragiri Hulu yang dalam waktu dekat akan merealisasikannya. Kita juga sangat berterima kasih kepada pemerintah kabupaten dan kota yang sudah mendukung program ini. Rata-rata, bupati atau wali kota yang sudah kita paparkan program ini, mendukung semua,’’ kata Gafar

Pesantren Teknologi di Riau

Pada tahun 1998-2002, APS untuk kelompok usia 7-12 tahun pada tahun 1998 sebesar 95,95% meningkat menjadi 97,42% pada tahun 2002; untuk kelompok usia 13-15 tahun sebesar 79,56% pada tahun 1998 meningkat menjadi 84,53% pada tahun 2002. Selanjutnya untuk kelompok usia 15-18 tahun pada tahun 2002 mencapai 54,22%, jauh di atas angka partisipasi sekolah untuk kelompok usia yang sama pada tahun 1998 yang hanya sebesar 45,51% dan untuk usia 19-24 tahun, pada tahun 1998 sebesar 10,90% meningkat menjadi 29,11%. Hal itu menunjukkan upaya dan komitmen Pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM melalui jalur pendidikan cukup berhasil. Indikator tingkat keberhasilan di sektor pendidikan dapat pula dilihat dari persentase angka melek huruf yang selama periode 1998-2002 cenderung terus meningkat. Jika pada tahun 1998 angka melek huruf bagi penduduk berumur 10 tahun ke atas di Provinsi Riau sebesar 96,03%, maka pada tahun 2002 meningkat menjadi 96,92%.

Pelaksanaan pembangunan Sektor Pendidikan bertujuan mewujudkan sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa, berkualitas, sehat, cerdas, terampil dan sejahtera serta menguasai IPTEK. Selama kurun waktu 1998-2002 mutu Sekolah Dasar telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, hal ini terlihat dari peningkatan kualifikasi pendidikan guru mulai dari jenjang program D-II hingga pendidikan Pasca Sarjana untuk guru SD.

Dalam rangka percepatan perwujudan sumberdaya manusia Riau yang berkualitas, handal dan mampu berkompetisi serta berkolaborasi dalam percaturan globalisasi, maka dilakukan kebijakan khusus melalui agenda strategis bidang pendidikan yaitu pembangunan Pesantren Teknologi, Pembangunan SMU Plus, Pemberian Beasiswa S2 dan S3, Pembangunan Kampus Fakultas Kedokteran, mendorong pendirian Politeknik, memberikan bantuan kepada Perguruan Tinggi, rencana meningkatkan Fakultas Teknik Universitas Lancang Kuning menjadi Institut Teknologi Riau (ITR) memberikan bantuan kesejahteraan guru dan membina jaringan kerjasama pendidikan regional dan internasional.

Pembangunan Pesantren Teknologi dimaksudkan untuk memadukan bekal kemampuan IMTAQ yang diaktualisasikan dalam kegiatan pembelajaran dengan kemampuan teknologi yang merupakan bekal kemampuan dasar bagi peserta didik dalam mempersiapkan diri memasuki pendidikan lanjutan, atau lebih jauh dari itu dalam upaya menapaki kehidupan masa depan yang lebih layak.

Mengenai SMU Plus, pendekatan yang dipergunakan adalah peningkatan mutu dengan penyediaan infrastruktur, proses belajar mengajar yang baik, manajemen sekolah yang profesional dan rekruitmen peserta didik yang dilakukan secara selektif di wilayah Kabupaten/Kota. Berbagai prestasi telah dicapai oleh SMU Plus antara lain (1) Jumlah rata-rata NEM tertinggi dalam dua tahun terakhir baik program IPA maupun IPS; (2) Juara I Tingkat Nasional lomba kreativitas guru; (3) Penghargaan dari Negara Chili dalam penulisan karya sastera; (4) Sebagian besar anak didik dapat melanjutkan ke berbagai Perguruan Tinggi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri seperti Nanyang University Singapura, dan beberapa Perguruan Tinggi di Amerika Serikat dan Jepang.

Jumlah pemuda/pemudi Riau yang telah memperoleh beasiswa sejak tahun 2000 adalah 950 orang terdiri atas S2 sebanyak 882 orang dan S3 sebanyak 68 orang, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Upaya membangun Fakultas Kedokteran dilaksanakan melalui tahapan yang diatur oleh pemerintah. Pada tahap awal statusnya dalam bentuk Program Studi di bawah payung Fakultas Kedokteran UNAND Padang dan untuk tahap selanjutnya diupayakan memenuhi persyaratan menjadi Fakultas Kedokteran UNRI. Pemerintah Provinsi tetap "concern" terhadap pembangunan gedung dan penyediaan infrastruktur lainnya.

Politeknik Caltex yang dibangun PT. CPI atas dorongan dan keikut sertaan Pemerintah Provinsi Riau telah memberikan pengaruh cukup besar kepada beberapa daerah untuk membangun Politeknik di daerah-daerah seperti di Bengkalis, Batam, Tanjung Pinang dan beberapa daerah lainnya. Bantuan pembangunan kepada Perguruan Tinggi telah diberikan kepada sejumlah Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta setiap tahun untuk meningkatkan kualitas hasil pendidikan pada Perguruan Tinggi tersebut.

Sedangkan Jaringan kerjasama pendidikan regional dan internasional, telah dilakukan kerjasama dengan berbagai universitas di luar negeri seperti Simon Fraser University, Vancouver, Canada dengan pendekatan pengembangan School Based Management dan pengembangan Bahasa Inggris bagi guru Sekolah Dasar dan SMU; Kerjasama dengan Singapura dalam melatih para guru SMU/SMK tentang sistem pembelajaran dan bahasa Inggris; kerjasama dengan Asean Education Consortium (AEC) berkaitan dengan sertifikasi nasional pada berbagai mata pelajaran di SMU Plus; bekerjasama dengan Leeds University, Inggris tentang pengembangan Bahasa Inggris bagi dosen di Universitas Riau dan PNS. Selain itu sejak tahun 2003 diprogramkan pengiriman siswa tamatan SMU yang lulus tes untuk mengikuti program pendidikan sampai dengan S3 di Jepang dan Amerika Serikat.





Plaza Anugerah di Sidimpuan

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop & UKM) RI Drs H Surya Dharma Ali MSi membuka secara resmi pengoperasian Plaza Anugerah Padangsidimpuan, Sabtu (16/2) yang ditandai dengan panandatanganan prasasti, penekanan tombol, pengguntingan pita serta penyantunan anak yatim.

Menkop & UKM dalam sambutannya menyambut baik berdirinya Plaza Anugerah oleh PT Anugerah Tetap Cemerlang (ATC). Dengan berdirinya plaza tersebut berarti PT ATC telah mengkombinasikan pusat perbelanjaan modern dan tradisional di Padangsidimpuan dan merupakan contoh terbaik dari sebuah “shooping mall” (pasar).

“Saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada direktur dan komisaris PT ATC yang telah merampungkan ini semua,”kata Menkop.

Menkop mengakui, kombinasi pasar modern dengan tradisional tersebut terkadang menimbulkan masalah, di mana pasar tradisional sering kalah bersaing karena kalah kualitas dan kurang memperbaiki dagangannya. Walau pada intinya dagang adalah persaingan, namun bagaimana pasar modern dan tradisional bisa berdampingan dengan damai, saling hidup menghidupi serta saling membutuhkan dan menguntungkan, karenanya pengusaha yang berada di level atas tetap bekerja sama dan harus memberi contoh.

“Pemerintah mendambakan kerukunan seperti ini, yang kecil hidup dan yang besar berkembang,” katanya.

Menkop mengharapkan, para pedagang untuk terus meningkatkan promosi dagangannya, sebab promosi hal penting dalam pemasaran. Selain itu memberikan pelayan terbaik, meningkatkan kualitas barang sehingga konsumen senang. Diakui, penyebab konsumen tidak datang umumnya disebabkan pelayanan yang kurang baik. “Sekali saja tidak memberikan pelayan yang baik, konsumen tidak datang lagi untuk berbelanja,” kata Menkop.

Sementara, Walikota Padangsidimpuan Drs H Zulkarnaen Nasution MM mengatakan, dengan berdirinya pusat perbelanjaan modern membuktikan Kota Padangsidimpuan semakin maju di bidang pedagangan, hal itu sesuai dengan visi dan misinya mewujudkan Kota Padangsidimpuan sebagai kota perdagangan, barang dan jasa. Sedangkan Dirut PT ATC Musa Ichwansyah mengatakan, hadirnya Plaza Anugerah tersebut diharapkan menjadi pusat perbelanjaan modren di wilayah pantai barat Sumut.

Turut memberikan kata sambutan Direktur Bank Syariah Mandiri Amran Nasution dan mewakili pedagang Wahyu Rizali. Selanjutnya Menkop & UKM Surya Dharma Ali didampingi Walikota Padangsidimpuan, komisaris utama PT ATC, Dubes Pakistan Mayjen Ali Baz, H Anif, Ketua DPRD H Bulkainy Nasution, Hasrul Azwar dan Fadly Nurzal menandatangani prasasti, penekanan tombol serta penggutingan pita pertanda dibukanya pengoperasian Plaza Anugerah. Kemudian dilakukan pemberian santunan kepada 150 anak yatim.

Usai pemberian santunan Menkop didampingi Komisaris Utama PT ATC serta undangan lainnya meninjau Plaza Anugerah.

Hadir pada acara itu Wakil Bupati Tapsel Aldinz Rapolo Siregar, Wakil Walikota H Maragunung Harahap SE, Bupati Madina H Amru Daulay SH, unsur Muspida Padangsidimpuan dan Tapsel, Sekdakot H Sarmadan Hasibuan SH MM, para Asisten, Kadis, serta undangan lainnya. Usai peresmian, Menkop & UKM bersama rombongan meresmikan kantor DPC PPP Padangsidimpuan di Jalan MT Haryono.

Pesantren Potensi Ekonomi yang Dahsyat

Nusron Wahid, Sekretaris Umum Inkopontren Pesantren Potensi Ekonomi yang Dahsyat

Seorang politisi biasanya selalu sibuk dengan urusan yang melulu berakaitan dengan politik. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Nusron Wahid. Politisi muda dan Anggota DPR dari Fraksi Golkar ini lebih tertarik bekerja konkret “ngurusi rakyat” melalui Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren). “Kerjaan ini memang butuh ketekunan dan kesabaran. Ini akan menghasilkan kerja kongkrit yang dapat dirasakan rakyat. Saya memang kurang tertarik dengan manuver politik. Capek lah,” ujar Nusron. Apa saja harapan Nusron Wahid melalui Inkopontren? Berikat petikan wawancara Saefullah wartawan Duta Masyarakat.


Kenapa Anda tertarik mengurusi Inkopontren?
Kami tahu angka kemiskinan di Indonesia sudah mencapai sekitar 40 juta. Tentu saja kita tidak tinggal diam, harus melakukan sesuatu. Nah, Inkopotren ini akan kita jadikan alat untuk memberdayakan ekonomi masyarakat, terutama masyarakat pedesaan. Dan sebagaian besar, masyarakat miskin itu, adalah dari kalangan masyarakat pesanten. Oleh karena itu, kita akan menjadikan koperasi pesantren untuk menciptakan wirausaha baru atau peluang usaha baru. Sebab untuk mengatasi kemiskinan tidak bisa diberikan bantuan atau subsidi atau bahkan dengan santuan-santuan. Tetapi dengan menciptakan peluang-peluang kerja. Dari peluang kerja itu diharapkan mampu menyerap peluang kerja. Biar bagaimanapun Inkopontren adalah organisasi bisnis yang berbasis kerakyatan. Dalam hal ini jelas rakyatnya adalah warga Pondok pesantren, masyarakat sekitar Pondok Pesantren dan jamaah Pondok Pesantren.

Program apa saja di Inkopontren untuk menjalankan niat Anda itu?
Pertama, net-assistmen. Kita bangun dengan membuat kategori-kategori kebutuhan yang dibutuhkan pondok pesantren. Mislanya, pondok pesantren yang telah memiliki koperasi tapi belum berbadan hukum hendaknya segera membuat badan hukum. Karena disitulah ada legalisasi formal untuk menjalankan usaha. Setelah berbadan hukum, lalu diberikan pelatihan-pelatihan manajemen terlebih dahulu (Capacity building). Setelah memberikan program, manajamen keuangan, manjemen produk dan sebagainya, baru kita akan berikan bantuan mencarikan modal usaha. Hampir sebagian besar usaha kecil terdapat tiga kelemahan, yakni modal, inovasi produk dan pemasaran.

Bagaimana kita mengatasi tiga kelemahan itu?
Dalam ekonomi kita mengenal prinsip triple “P”. People (SDM), produk (barang) dan profit (keuntungan). Jika tidak ada sdm yang bagus, maka tidak menghasilkan produk selanjutnya tentu tidak akan menghasilkan propit. Oleh karena itu, kita memakai be what induaction atau kesimpulan yang mundur. Kalau kita ingin profit yang baik, maka satu-satunya jalan harus membuat produk yang unggul. Untuk menghasilkan produk yang unggul maka kita harus membuat sumberdaya manusia yang unggul pula.

Anda punya cara agar triple “P” tersebut mampu diterapkan di Inkopontren?
Insya Allah. Kita sudah mulai ditingkat induk di Jakarta. Semua yang bekerja disini dibayar secara proposional dan profesional sesuai bidang pekerjaanya. Nanti akan kita himbau juga di koperasi-koperasi primer di pondok pesantren.

Ada kultur yang tidak baik di kalangan masyarakat, termasuk masyarakat pesantren, yakni lemah bidang kedisiplinan. Terkadang kredit dianggap sebagai hibah yang tidak perlu dikembalikan. Hingga tidak jarang pinjaman modal digunakan untuk keperluan konsumtif, seperti membeli mobil atau rumah baru. Tanggapan Anda?
Begini Nahdlatul Ulama kan mempunyai usul fiqih yang berbunyi, Al muafadoh alalqodhimisholih walachdu bil zadidil iasllah, (melestarikan nilai-nilai lama yang masih bagus dan mengabil nilai baru yang lebih bagus), nah kalau nilai lama itu, tidak bagus ngapain kita pertahankan. Harus kita revolusioner. Harus kita rombak. Sudah saatnya kultur seperti itu kita tinggalkan bila kita tidak ingin ketinggalan oleh yang lain.

Caranya?
Salah satunya adalah melalui pelatihan-pelatihan. Dengan pembongkaran wacana, pemberian pengetahuan dan sebagainya. Nanti saya kira, kiai-kiai maupun pondok pesantren yang tidak profesional, yang masih menggunakan klutur lama atau manajemen tunggal, tidak mempakai divison of later (pembagian tugas) yang jelas pasti akan ditinggal oleh pasar. Wong ekonomi ini mekanisme pasar. Meski Pondok Pesantren bila menghasilkan produk dengan kualitas buruk, apakah akan memakasa para santri membeli? Saya kira belum tentu. Para santri akan protes. Karena mereka makin kritis. Satu sisi santri juga konsimen yang punya hak untuk mendaptkan prodak yang berkualutias.

Sebetuknya apa seh keunggulan yang dimiliki Inkopontren?
Kami mempunyai jaringan dan pangsa pasar yang jelas. Di Indonesia ada 16 ribu pondok pesantren. Dari 16 itu ada 4 ribu yang memiliki koperasi pondok pesantren yang berbadan hukum. Itu sebuah jaringan yang dahasyat. Dari 16 ribu, kalau rata-rata memiliki 2 ribu anggota sudah ada 1,2 juta anggota aktif. Belum ditambah masyarakat sekitar. Mana ada koperasi di Indonesia yang anggotanya mencapai 1,2 juta. Oleh karena itu, kita harus mewujudkan potensi yang kita miliki menjadi potensi ekonomi. Ini jaringan kalau dibiarkan akan mati. Kan sayang. Tapi kalau kita hidupkan akan menciptakan multiefek yang luar biasa. Ekonomi di bawah akan menggeliat. Akan ada fakor produksi, sirkulsi produksi. Dan ujungnya akan mencipatakan keuntungan bagi masyarakat pesantren dan sekitarnya.

Dapatkan memiliki multi player iefek yang lebih besar?
Tentu. Multi player efect yang ditimbulkan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan. Maka logaikanya pengangguran akan teratsi., kemiskinian akan terkurangi. Kalau ini dapat berjalan dengan baik akan memberikan konstribusi dalam rangka menciptakan percepatan pembanginan terutama di basis-basis pedesaan. Kenapa? karena semua aspek pondok di pedesaan.

Apa sih usaha Inkopontren?
Pertama sedang berusaha mengatur jalur distribusi. Kedua, rata-rata komperasi primer di pondok pesantren punya industri argo, kerajinan, dan konvensi. Seperti membuat jilbab, pakaian muslim dan sebagainya. Kedua adalah distribusi dan dagang. Buat minimarket, jual sabun dan kebutuhan sehari-hari.

Peluang bisnis lain?
Kami sedang menjajaki peluang bisnis Apotek. Banyak masyarakat desa beli obat susah dan mahal. Karena mata rantai kepanjangan, maka harganya mahal. Dengan kehadiran koperasi pondok pesantren yang bergeraj bidang Apotek di desa, kita harapkan obat menjadi murah, karena memutus mata rantai yang panjang itu. Ketiga jasa keuangan. Kita mempunyai 400 baitul maal watamwil. Inkpontren juga sedang menjajaki peluang usaha perumahan.
Pemerintah sudah memberikan subsidi perumahan masksimal 12 juta bagi yang berpengasuhal rendah. Saya kira ustad-ustad di pondok pesantren itu sebagian besar berpenghasilan rendah. Nanti kita bantu bangunkan rumah. Kalau mereka sudah punya tanah kita bangunkan rumah senilai 25 juta. Kan dapat subsidi 12 juta. Tinggal kita bantu mereka dapat hutang ke bank 12 juta. Mereka tinggal mencicil hutang yang di bank. Akhirnya mereka dapat kemudahan. Kita akan bangun berjamaah mesti tempatnya tidak jadi satu.

Kalau Inkopontren harus ada yang dibenahi bidang apa?
Moral. Jangan sampai Pondok pesantren pakai aji mumpung. Mentang-mentang dibantu pemerintah. Mentalnya bukan mental bisnis. Tapi mental konsumsi. Bukan dapat di usaha. Buat buat bagun rumah.





Wapres Berharap Kopontren Jadi Kader Wirausaha Muda

Wapres Berharap Kopontren Jadi Kader Wirausaha Muda


Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengharap koperasi pondok pesantren bisa menjadi tempat menggembleng dan menumbuhkan para pengusaha muda yang makin handal ketika kembali ke masyarakat. Karena itu, JK meminta Koperasi Pondok Pesantren bisa menjadi lembaga pendidikan kewirausahaan bagi para santrinya.
“Yang lebih penting koperasi Pondok Pesantren bisa menjadi lembaga pendidikan kewirausahaan bagi santri-santri,” kata Wapres M Jusuf Kalla saat membuka Rakernas Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren) di Jakarta, Jumat (14/12).
Wapres menambahkan Koperasi Ponpes juga harus bisa meningkatkan kesejahteraan pesantren maupun santri dan juga masyarakat sekelilingnya. “Tugas utama kita ialah bagaimana mendorong munculnya entreprenur, dan pengusaha-pengusaha muda untuk bisa maju. Dengan begitu kegiatan-kegiatan ekonomi umat bisa berjalan lebih baik,” kata Wapres.
Selanjutnya Wapres mengatakan, saat ini yang dibutuhkan Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan sekaligus bisa merata. Menurutnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi saja belum cukup bagi Indonesia. Namun pertumbuhan yang tinggi sekaligus harus dibarengi dengan pemerataan.
Sementara itu, Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren) yang merupakan organisasi yang mewadahi koperasi pondok pesantren berusaha merubah paradigma bahwa koperasi adalah lembaga bisnis yang bertujuan untuk memperoleh keuntungan, namun dengan cara-cara yang baik.
“Kita tidak dilarang kaya dalam Islam, caranya harus sesuai dengan ajaran agama dengan menggunakan prinsip kejujuran, amanah dan win-win solution,” kata Wakil Ketua Inkopontren Bina Suhendra seusai penutupan Rakernas Inkopontren yang berlangsung pada 13-15 Desember.






Menanti wirausahawan dari pesantren

Menanti wirausahawan dari pesantren

Setelah hampir sepuluh tahun nyaris tak terdengar kiprahnya, Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkoppontren) menggelar rapat kerja nasional (rakernas) 14-16 Desember 2007.

Rakernas secara resmi dibuka Wapres M. Jusuf Kalla. Dalam kesempatan itu, Wapres berharap koperasi pondok pesantren bisa menjadi lembaga pendidikan kewirausahaan bagi santri.

Melalui koperasi, pesantren tidak hanya diharapkan melahirkan para kiai dan tokoh masyarakat, tapi juga pebisnis yang andal.

"Tugas utama kita ialah bagaimana mendorong munculnya entreprenur, dan pengusaha muda untuk bisa maju. Dengan begitu kegiatan ekonomi umat bisa berjalan lebih baik," kata Wapres.

Santri pengusaha inilah yang diharapkan ikut mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan hasil pembangunan. Menurut Wapres, pertumbuhan yang tinggi saja belum cukup, tapi harus dibarengi dengan pemerataan.

Inkopontren sebagai lembaga sekunder yang membawahi pusat koperasi pesantren (puskoppontren) diyakini memiliki banyak kekuatan, terutama modal sosial.

Kelahirannya di lingkungan pesantren sebagai pusat budaya dan moral memiliki nilai penting. Tidak hanya itu, koperasi ini adalah anak kandung pesantren yang dibidani sekaligus diasuh para kiai.

Koperasi ini juga membawa trade mark pesantren dengan para kiainya. "Justru yang saya takutkan pesantren jatuh gara-gara koperasi [yang tidak benar]. Ini harus profesional," ujar Thonthowi Djauhari Musaddad, Ketua Umum Inkoppontren periode 2007-2012.

Thonthowi terpilih menjadi Ketua Umum Inkopontren melalui Rapat Anggota Tahunan (RAT) pada 6-7 September 2007. Thonthowi adalah Pimpinan Pesantren Luhur Al-Wasilah, Tarogong, Garut.

"Saya tidak bermimpi untuk memimpin Inkoppontren. Saya hanya disuruh para kiai," ujarnya. Thonthowi menyelesaikan pendidikan S-1 di Fakultas Usuluddin, Jurusan Tafsir Hadist, Universitas King Abdul Azis di Mekkah. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan S-2, Jurusan Tafsir Hadist, Ummul Qura Mekkah dan lulus pada 1993.

Meski jenjang pendidikan di bidang agama, kiai ini sukses memajukan lembaga ekonomi di pesantrennya, Koppontren Al-Wasilah. Tampaknya, ini menjadi salah satu pertimbangan tokoh asal Jabar ini dipercaya memimpin Inkoppontren.

"Kami mendambakan Inkoppontren sebagai badan usaha yang sehat dan profesional, sehingga mampu menjadi pemain ekonomi di kancah nasional maupun internasional," ujarnya.

Pasca-RAT, pengurus baru langsung melakukan analisis SWOT (strengness, weakness, opportunity and threatness). "Kami krisis sumber daya manusia dalam soal ini. Karena itu, setahun pertama kami akan benahi manajemen internal," ujar Nusron Wahid, Sekum Inkoppontren.

Dalam hal aset, pengelolaannya tak jelas. Pengurus baru tidak bisa mengungkapkan nilai aset koperasi itu. Alasannya, tidak ada laporan dari pengurus lama dan belum diaudit. Namun, hal itu tidak menghalangi pengurus untuk menyiapkan program bisnis.

Tiga bidang

Ada tiga bidang utama yang akan disasar dalam lima tahun mendatang. Pertama, bidang industri dan produksi, antara lain agroindustri dan kerajinan.

Kedua, bidang perdagangan dan jasa, mencakup ritel, apotek, distribusi dan pergudangan, jasa angkutan, jasa pendidikan dan penyaluran tenaga kerja terlatih.

Ketiga, bidang jasa layanan keuangan, di antaranya jasa simpan pinjam dan lembaga keuangan mikro, serta lembaga penjaminan kredit bagi usaha kecil.

Menilik basis pelanggannya yang luas di kalangan pesantren, ditambah modal sosial, usaha itu merupakan peluang potensial.

Di Indonesia saat ini tercatat lebih dari 14.600 pesantren dengan ribuan santri. Ini merupakan potensi ekonomi sekaligus pasar. Hanya saja, sejauh ini tidak ada data jumlah kopontren yang pasti. "Inkoppontren nanti melakukan pendataan, termasuk potensinya. Menjadi pusat informasi adalah mendesak," ujar Thontowi.

Inkoppontren juga ditargetkan mampu dalam empat hal. Pertama, sebagai fasilitator bagi anggotanya dalam meningkatkan sumber daya manusia, melalui pelatihan dan akses informasi.

Kedua, mediator antara kebijakan pemerintah dan lembaga lain dengan kepentingan koperasi primer, seperti bantuan program dan permodalan.

Ketiga, menjadi katalisator pertumbuhan koppontren sebagai organisasi usaha agar mumpuni.

Keempat, membuat aturan main internal induk koperasi maupun dengan anggotanya, yakni puskoppontren, sehingga tercipta nilai tambah modal sosial maupun ekonomis.

Sebagai induk, koperasi ini memiliki dua status sekaligus, yakni sebagai sekunder yang membawahi oleh sejumlah badan hukum koperasi, serta primer yang melakukan aktivitas bisnis.

Namun, induk koperasi berbeda dengan organisasi masyarakat yang memiliki jalur komando (mutlak), sehingga manajemennya tidak bisa instruktif tapi harus dibangun untuk saling menguatkan.

Setiap koperasi memiliki anggaran dasar maupun anggaran rumah. Kepentingan ekonomi yang sama dan kebutuhan sinergi adalah faktor paling signifikan yang mengikat kongsi antarkoperasi itu. "Inkopontren akan menjadi semacam trade center milik koperasi pondok pesantren," ujar Thonthowi. Apalagi, tidak sedikit kopontren yang mampu unjuk gigi.

KSP Sido Giri misalnya, kini memiliki 50 cabang, dengan aset Rp98 miliar. Koperasi yang lahir di salah satu pondok pesantren tertua di Jatim ini berkembang secara mandiri, tanpa bantuan modal pemerintah.

Sementara itu, di desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Ponpes yang dipimpin KH Fuad Affandi berhasil membangun Koppontren Al Ittifaq yang menghasilkan 3,5 ton per hari.

Hasil budi daya santri dan warga sekitarnya ini pun mampu menembuh sejumlah pasar modern, seperti Hero, Makro, Giant, Yogya, Matahari dan Superindo.

"Utusan koperasi ini ikut dalam rakernas. Mereka mempresentasikan success story agar pengalamannya bisa dibagi ke peserta lain," ujar Ketua Panitia Rakernas Inkopontren Marsudi.

Harapannya, koppontren lain akan termotivasi membangun diri dan melahirkan santri entrepreneur.






Pesantren Kuantum

Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan
Bobbi DePorter dan Mike Hernacki Peresensi: Khusnul Yaqin,
Manajer di Lembaga Pengkajian dan Pemberdayaan Lingkungan (LPPL),
Ujungpandang.

Banyak kalangan pelajar menganggap belajar adalah aktivitas yang
tidak menyenangkan. Duduk berjam-jam dengan mencurahkan perhatian
dan pikiran pada satu pokok bahasan, baik yang sedang
diceramahkan guru atau yang sedang dihadapinya di meja belajar,
hampir selalu dirasakan sebagai beban ketimbang upaya aktif untuk
memperoleh ilmu. Mereka tidak menemukan suasana re-kreasi (baca:
mencipta kembali dengan penuh kesadaran) saat di kelas atau pun
ketika mengerjakan tugas di rumah.

Karenanya banyak pelajar menganggap ruang-ruang belajar -- di
sekolah atau di rumah --sebagai sebuah penjara. Kalau saja mereka
datang ke tempat belajar atau bergulat dengan setumpuk pe-er,
maka itu tidak lebih dari sekadar rutinitas untuk mengisi daftar
absensi atau untuk mencari nilai, tanpa diiringi kesadaran untuk
menambah wawasan atau pun mengasah keterampilan.



Tercerabutnya kegairahan belajar, selain disebabkan oleh
ketidaktepatan metodologis, juga berakar pada paradigma
pendidikan konvensional yang menyekat ruang-pengajar-dan-pelajar
dan membatasi kemampuan otak manusia. Paradigma ini sering
berimplikasi pada hilangnya kepercayaan diri pelajar ketika
berhadapan dengan materi-materi pelajaran yang seolah-olah sulit,
karena pelajar selain dianggap mempunyai otak yang terbatas.
Selain itu mereka tidak dianggap sebagai pusat kreasi yang dapat
menjalin kemitraan dengan pengajar.

Dengan demikian, terbentuklah sekat struktural antara pengajar
dan pelajar. Pada titik kronis pengajar seolah-olah memegang
otoritas mutlak ilmu, sehingga kritik adalah suatu hal yang tabu.

Suasana batin paradigma ini kemudian berpengaruh lebih luas pada
metode belajar-mengajar yang tidak kondusif bagi perkembangan
rohani peserta didik. Metode belajar-mengajar yang diterapkan
hanya mengakomodasi karakter umum pelajar dalam mencerap
pelajaran, sehingga kecenderungan-kecenderungan spesifik pelajar
dalam mencerap pelajaran diabaikan. Dalam keadaan demikian
suasana kebersamaan yang digairahkan oleh keberanekaragaman
kemampuan guru dan murid dalam mengelola proses belajar-mengajar
tidak diapresiasi.

Dari sisi paradigma, khususnya pada metodologi, buku Bobbi
Deporter dan Mike Hernacki yang berjudul asli Quantum Learning:
Unleashing The Genius in You ini menunjukkan gagasan yang baru
dan segar. Metodologi belajar-mengajar yang diterangkan secara
gamblang dan sederhana merupakan kelebihan buku ini. Hal ini
mungkin yang menyebabkan pengarang enggan mengelaborasi lebih
dalam sisi paradigmanya.

Dengan merujuk rumus fisika kuantum E = mc2, DePorter menyodorkan
gagasan yang mengadopsi teori kuantum sebagai paradigma dalam
pendidikan. Paradigma ini menunjukkan penghargaan yang tinggi
terhadap manusia dan memperlihatkan suatu kenyataan bahwa proses
belajar -- atau bahkan proses hidup -- adalah aktivitas untuk
meraih sebanyak mungkin cahaya.

Melalui interaksinya dengan cahaya, manusia dapat mencipta
sebanyak mungkin energi. Otak manusia sebagai pusat seluruh
proses pencerapannya adalah materi yang apabila berinteraksi
secara intensif dengan cahaya akan menghasilkan energi yang luar
biasa.

Metode belajar kuantum bermula dari upaya Dr Gergori Lozanov,
seorang pendidik berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan
apa yang disebutnya sebagai suggestology atau suggestopedia.
Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti memberikan hasil
situasi belajar, dan setiap detail apapun memberikan sugesti
positif ataupun negatif.

Beberapa teknik yang digunakan dalam metode belajar kuantum
adalah menciptakan sekondusif mungkin ruang belajar untuk
membangun sugesti, seperti memasang musik latar di dalam kelas,
mendudukkan pelajar secara nyaman, meningkatkan partisipasi
individu, dan menyediakan guru-guru yang terlatih dengan baik
dalam seni pengajaran sugesti.

Dalam belajar dengan metode kuantum, sekat struktural antara
pengajar dan pelajar dihilangkan semaksimal mungkin. Penciptaan
suasana yang menjalin saling pengertian antara pengajar dan
pelajar adalah suatu hal yang penting. Oleh karena itu teori
Neurolingustik (NLP) yang mempelajari bagaimana otak mengatur
informasi diaplikasi dalam metode belajar ini. Dengan pengetahuan
NLP guru dapat mengetahui bagaimana menggunakan bahasa yang
positif untuk meningkatkan tindakan-tindakan yang positif dan
jalinan kebersamaan yang erat antara siswa dan guru.

Selain itu, pensuasanaan dan kesiapan para peserta didik menjadi
perhatian yang menonjol dalam metode kuantum. Suasana ruang
belajar ditata semenarik mungkin agar mampu menciptakan keadaan
yang gembira dari awal pelajaran dimulai hingga proses belajar
berakhir.

Pelajaran dimulai dengan melakukan aktivitas fisik selama
beberapa menit untuk melemaskan otot-otot. Kemudian, relaksasi
tubuh dan revisualisasi positif dari keberhasilan sebelumnya
menempatkan siswa dalam mental yang prima dan perhatian yang
relaks terhadap apa saja yang terjadi di kelas. Suasana eksternal
yang kondusif dan keadaan internal yang segar menjadi prioritas
utama dalam belajar dengan metode kuantum.

Pesantren kuantum
-----------------
Buku ini merupakan ''rekaman'' yang baik dari pengalaman Bobbi
DePorter dalam membangun proyek pendidikan luar sekolah yang
brilian yang diberi nama SuperCamp. Dengan membaca buku ini kita
akan menemukan teknik-teknik belajar dengan metode kuantum yang
efektif, efisien, bergairah dan menghasilkan semacam kemampuan
diri yang berlipat-lipat.

SuperCamp sebenarnya berawal dari sekolah bisnis Burklyn di
Vermont. Sekolah ini merupakan sekolah garda depan yang
mengajarkan subjek-subjek bisnis tradisional dengan cara yang
tidak tradisional. DePorter menerapkan metode belajar cepat yang
dipelajarinya dari pakar pendidikan ternama Dr Georgi Lozanov di
sekolah bisnis ini.

Keberhasilan sekolah bisnis ini dalam mengubah perilaku, cara
berpikir, semangat hidup dan wawasan bisnis peserta didik,
membuahkan gagasan untuk menerapkan metode belajar yang sama bagi
anak-anak ABG. Di SuperCamp inilah prinsip-prinsip dan metode
belajar kuantum menemukan bentuknya.

Buku ini memberikan kepada Anda 20% informasi dari SuperCamp yang
membuat 80% perbedaan dalam cara belajar Anda. Dua puluh persen
yang amat penting ini mencakup bidang dan keterampilan berikut
ini: Bersikap positif, termotivasi, menemukan cara belajar Anda,
menciptakan lingkungan belajar yang sempurna, membaca dengan
cepat, membuat catatan yang efektif, mempelajari teknik penulis
yang canggih, berpikir kreatif, mengembangkan hafalan yang
menakjubkan (hal. 12).

Di Indonesia, kegiatan yang hampir mirip dengan SuperCamp bisa
kita temukan pada pesantren-pesantren kilat yang seringkali
diadakan untuk mengisi masa libur siswa-siswa SD sampai SMU
bahkan mahasiswa di perguruan tinggi. Hanya saja di pesantren-
pesantren kilat itu hampir tidak diterapkan 20% yang penting dari
SuperCamp yang termuat dalam buku ini.

Barangkali pesantren-pesantren kilat yang ada akan lebih baik
jika mengadopsi metode belajar kuantum, hingga akhirnya nanti
akan banyak pesantren-pesantren kuantum yang akan menjadi
paradigma baru dalam pendidikan di negeri kita. Semoga.

PERAN pondok pesantren sangat besar

PERAN pondok pesantren sangat besar dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Pengajar pondok pesantren harus memiliki kompetensi agar setiap pesantren memiliki standar yang sama dengan pendidikan formal lainnya.

Dengan jumlahnya yang cukup signifikan dari Sabang sampai Merauke, peran pondok pesantren tak bisa diabaikan untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Demikian dikemukakan Direktorat Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Nonformal (Dir. PTKNF) Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Erman Syamsuddin. ”Di Jawa Timur, pondok pesantren berperan besar memberantas buta aksara,” ujar Erman.

Menurut dia, pondok pesantren merupakan embrio-embrio pendidikan masyarakat yang sudah mengakar sejak lama. Agar lulusan pondok pesantren memiliki kesempatan yang sama dengan siswa lain dari sekolah formal, mutu pendidikan di tempat tersebut harus ditingkatkan agar memiliki standard yang sama.

”Pengajar pondok pesantren baik formal maupun informal harus memiliki kompetensi agar mutu pendidikan di ponpes tersebut setara satu sama lain, juga dengan tempat pendidikan lainnya,” katanya pada acara pembukaan Program Pelatihan Pengembangan Metodologi Pembelajaran Bahasa Inggris Bagi Tutor PKBM Berbasis Pondok Pesantren, Senin (14/5).

Menurut data Departemen Aga¬ma RI tahun 2004, institusi pondok pesantren di Indonesia jumlahnya mencapai 16 ribu ponpes. Dengan jumlah sebesar itu, memang bukan hal yang mudah untuk melakukan standardisasi ke semua ponpes. Apalagi, menurut Direktur Eksekutif Kantata Research Indonesia Mulyadi M Phillian, dunia pesantren memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain.

”Namun, dengan adanya konsep persaudaraan atau ukuwah, perbedaan tidak menjadi pemidah antara satu ponpes dengan ponpes lainnya. Hal tersebut merupakan modal dasar yang dapat mendorong terjadinya komunikasi dan integrasi antar pesantren,” katanya.

Mulyadi mengatakan, setelah melakukan riset, pihaknya menemukan ada beberapa kebutuhan pondok pesantren untuk meningkatkan mutunya. Kebutuhan tersebut antara lain; kebutuhan terhadap orientasi kelembagaan dan manajemen strategis, kebutuhan terhadap metodologi pembelajaran, pemberdayaan ekonomi, kebutuhan terhadap pengembangan metodologi pembelajaran dan penguasaan bahasa asing, dan yang terakhir adalah kebutuhan terhadap kemandirian santri, berupa life skill (kemampuan hidup).

”Kami berusaha menjawab kebutuhan yang keempat (pengembangan metodologi pembelajaran dan penguasaan bahasa asing) dengan menyelenggarakan program pelatihan yang digelar atas kerjasama dengan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Bahasa ini,” jelasnya.

Mulyadi mengatakan, program pelatihan tersebut diikuti oleh 30 peserta perwakilan ponpes dari tiga provinsi. Satu peserta dari Jakarta, tujuh dari Banten dan 22 peserta dari Jawa Barat. Para peserta yang merupakan tutor bahasa Inggris di ponpesnya masing-masing akan diberikan pelatihan metodologi pembelajaran bahasa Inggris selama dua pekan.

”Bisa dibilang pelatihan kali ini merupakan pilot project. Kami berharap ke depan, semua pesantren di Indonesia bisa mendapat kesempatan yang sama,” kata Mulyadi.





 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Al Akbar News - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger