Jejak Islam di Kampung Solor, NTT
Kehadiran Islam di Kampung Solor, Kota Kupang, tidak dapat dilepaskan dari dinamika politik dan militer di kawasan Timor pada masa kolonial. Sejarah ini berpuncak pada mobilitas orang-orang Solor yang sejak abad ke-17 telah memainkan peran penting dalam perdagangan, pelayaran, dan konflik antara kekuatan Eropa di Nusa Tenggara Timur.
Sejak kedatangan VOC di Kupang pada 1653, orang-orang Solor sudah ikut hadir sebagai pasukan pribumi yang mendukung kekuasaan Belanda. Mereka turut membangun dan menjaga Benteng Concordia, pusat pertahanan dan administrasi VOC di pesisir Kupang. Namun pada masa awal, kehadiran orang Solor di Kupang masih bersifat sementara dan belum membentuk pemukiman tetap.
Orang-orang Solor dikenal sebagai pelaut tangguh di kawasan timur Nusantara. Keahlian mereka sangat dibutuhkan VOC, baik untuk kepentingan militer maupun perdagangan. Meski demikian, setelah VOC memindahkan pusat kekuasaannya dari Benteng Henricus di Solor ke Kupang pada 1657, sebagian besar pasukan Solor kembali ke pulau asalnya.
VOC kemudian mengizinkan para pedagang Lamakera dari Solor untuk tinggal sementara di wilayah pesisir timur Benteng Concordia, tepatnya di daerah yang oleh suku Helong disebut Klimbungan. Dari tempat inilah cikal bakal Kampung Solor kelak terbentuk, meskipun pada masa itu belum menjadi pemukiman permanen.
Salah satu tokoh penting dalam fase awal ini adalah Sengaji Dasi, penguasa Lamakera yang dikenal dekat dengan VOC. Ia beberapa kali menetap sementara di wilayah Baureno dan berperan sebagai penerjemah VOC dalam perdagangan di Timor dan wilayah sekitarnya. Sengaji Dasi bahkan tercatat beberapa kali melakukan perjalanan ke Batavia, sesuatu yang jarang dilakukan penguasa lokal pada masa itu.
Meski relasi politik dan ekonomi antara orang Solor dan Kupang telah terjalin lama, hingga pertengahan abad ke-18 belum ada komunitas Solor yang menetap secara permanen. Situasi ini berubah drastis ketika konflik besar meletus antara VOC dan Portugis Hitam atau Topas.
Pada 1749, VOC menghadapi ancaman serius dari Portugis Hitam yang menguasai pedalaman Timor. Untuk memperkuat pertahanan, VOC mendatangkan pasukan sekutu dari Sabu, Rote, dan Solor. Dari Solor, hadir seorang tokoh Muslim penting bernama Atu Laganama, pemimpin pasukan dari Lamakera.
Pasukan Solor yang berjumlah sekitar 60 orang ditempatkan di Fatubesi, dekat pesisir Kupang. Kehadiran pasukan Portugis Hitam di bukit Han Oni memicu kepanikan besar, bahkan sebagian besar penduduk Kupang melarikan diri ke Pulau Semau karena takut akan serangan besar-besaran.
Pertempuran Penfui yang terjadi pada 9 November 1749 menjadi titik balik sejarah Kupang. Pasukan VOC dan sekutunya berhasil memukul mundur kekuatan Portugis Hitam yang jumlahnya puluhan ribu. Kemenangan ini menandai berakhirnya dominasi Portugis Hitam di Timor Barat.
Keberhasilan Atu Laganama dan pasukan Solor dalam pertempuran tersebut mendapat apresiasi dari VOC. Dengan persetujuan Raja Kupang, VOC memberikan sebidang wilayah pesisir bernama Klimbungan kepada orang-orang Solor, dengan syarat mereka bersedia menjadi pasukan mardijkers untuk melindungi Benteng Concordia.
Tidak semua pasukan Solor menerima tawaran tersebut, namun sebagian besar memilih menetap. Atu Laganama bersama pengikutnya mendirikan pemukiman permanen di Klimbungan. Dari sinilah Kampung Solor lahir sebagai komunitas tetap, bukan lagi hunian sementara.
Atu Laganama dikenal luas sebagai tokoh Muslim yang aktif menyebarkan Islam di Kupang. Dalam beberapa sumber, ia juga disebut sebagai Sultan Syarif Sahar, dengan garis keturunan yang dikaitkan dengan Ternate. Bersama Abdulrachman dari Benggala, ia mendirikan masjid pertama di Batubesi.
Sejak akhir abad ke-18, Kampung Solor berkembang menjadi pusat komunitas Muslim di Kupang. Atu Laganama mendirikan madrasah dan menjadi imam, peran yang kemudian dilanjutkan oleh Sangaji Susan pada awal abad ke-19.
Keberadaan Kampung Solor diakui secara resmi oleh pemerintah Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Kampung ini ditetapkan sebagai salah satu kampung milisi di Ibukota Kupang dan dipimpin oleh seorang wijkmeester, jabatan administratif terendah dalam sistem pemerintahan kolonial.
Pada awal abad ke-20, Kampung Solor semakin berkembang seiring pemindahan Pasar Baru ke wilayah tersebut pada 1912. Perdagangan pun bergeser dari Kampung Cina ke Kampung Solor, menjadikannya pusat ekonomi baru di Kupang.
Arus pendatang meningkat, dan Kampung Solor berubah menjadi komunitas majemuk tanpa kehilangan identitas Islamnya. Masjid, pasar, dan gedung pertunjukan berdiri berdampingan, mencerminkan dinamika sosial yang hidup.
Pasca-kemerdekaan, Kampung Solor ditetapkan sebagai desa pada 1953 dan mengalami pemekaran wilayah pada 1969. Meski status administratif berubah, peran historisnya sebagai pusat Islam tetap terjaga.
Tradisi Islam di Kampung Solor tidak hanya tampak dalam institusi keagamaan, tetapi juga dalam budaya. Grup musik Setanggi Timor, dengan nuansa Melayu-Islam, menjadi ikon budaya lokal hingga dekade 1970-an.
Memasuki akhir abad ke-20, Kampung Solor tercatat sebagai wilayah terpadat di Kota Kupang. Kepadatan ini mencerminkan daya tarik historis dan ekonominya sebagai pusat aktivitas masyarakat.
Sejarah Islam di Kampung Solor menunjukkan bahwa penyebaran Islam di Timor Barat tidak terlepas dari peran pelaut, pedagang, dan prajurit dari Solor. Kampung Solor menjadi bukti bahwa Islam di Kupang tumbuh melalui interaksi maritim, politik kolonial, dan perjuangan lokal yang panjang.
Jejak Islam di Kampung Solor, NTT
Reviewed by Admin2
on
7:00 AM
Rating:


Post a Comment