Header AD

Pesantren Dan TV

Minggu, 23 Juni 2002
Saluran TV Muslim
Oleh: Endro Cahyono (Jurnalis TV)

Beberapa waktu lalu, seorang teman menelpon. Ia meminta pertimbangan -- sekaligus mengajak bergabung untuk membidani -- moslem news channel.

''TV berita Islam?'' tanya saya. ''TV berita bernuansa Islami,'' ia meluruskan. Maksudnya, saluran informasi yang menyajikan berbagai macam program Islami -- khususnya berita-berita yang mengedepankan ghirah Islam, berita-berita yang ''sejuk'', dan bisa menjadi penyeimbang bagi
informasi-informasi yang berasal dari barat (yang cenderung mengecilkan arti Islam).

Meski secara spontan memberi apresiasi positif pada ide tersebut, tapi saya tak langsung mengiyakan ajakan tadi. Gagasan moslem news channel tersebut, memang sangat cemerlang. Tapi sebenarnya bukan sebuah ide orisinil. Sebab, dulu Nasir Tamara (salah seorang pengurus ICMI) pernah mengajukan izin untuk Global TV, yang dikonsepkan sebagai sebuah TV berita Islam, mirip Al Jazeera. Pemodalnya pun, kabarnya sudah ada. Yakni Ifftihar, sebuah konsorsium pengusaha Timur Tengah. Tapi entah kenapa, Nasir malah menjual izin frekwensi yang dipegangnya kepada Grup Bimantara. Dan, Bimantara kemudian mengubah konsep Global TV menjadi saluran remaja dengan mengeksploitasi paket-paket musik dari MTV.

Selain Global TV, sekitar Juli nanti, sebenarnya akan mengudara sebuah saluran Islam. Namanya, Ar Rahman Channel. Namun, saluran yang beroperasi dengan format TV kabel itu lebih banyak menyajikan program program entertainment, pendidikan dan profil.

Harapan yang dilambungkan Budiman P Sophian dan Erry Prabowo (pendiri Ar Rahman Channel) cukup optimistis. Mereka mentargetkan, pada tahun ketiga, Ar Rahman Channel sudah dapat dinikmati di negara-negara Asia, dan Amerika. Sedangkan break event point (BEP) diproyeksikan setelah 2,5 tahun mengudara.

Optmisime Ar Rahman Channel tadi, tak lepas dari kalkulasi besarnya potensi pasar yang dapat digarap. Asumsinya, 95 persen penduduk Indonesia yang beragama Islam, bisa dirangkul. Dan para pelaku bisnis di Indonesia pun, juga selalu merasa berkepentingan untuk mengkampanyekan bahwa produk mereka halal dikonsumsi oleh masyarakat muslim. Artinya, perusahan-perusahaan tersebut adalah pemasang iklan potensial di sebuah saluran TV Islam.

Dengan asumsi seperti itu, secara teoritis, seharusnya TV dan media-media Islam bisa menjadi salah satu leader dalam industri media di Indonesia. Karenanya, agak aneh kalau selama ini media Islam cuma mampu tampil di lapis kedua, di bawah media-media yang mengusung paham nasionalis. Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang terpaksa harus tutup pada usia yang sangat dini.

Entah apa yang salah. Tapi kalau melihat perjalanan media-media Islam di Indonesia, yang paling sering jadi persoalan adalah masalah permodalan dan managemen. Padahal, kedua persoalan itu lah, yang kini menjadi faktor paling penting bagi kelangsungan hidup perusahaan pers. Maklum, dalam iklim ekonomi yang cenderung kapitalis seperti sekarang, pers lebih dikendalikan oleh kekuatan modal, ketimbang kekuatan moral.

Kembali ke konsep TV berita bernuansa Islami tadi. Gagasan cemerlang itu, cepat atau lambat, pasti juga akan berbenturanb dengan kedua kendala tersebut. Kalau pun ada investor yang siap mengucurkan dana dalam jumlah besar, persoalan managemen, bukan tak mungkin bakal tetap jadi hambatan. Pasalnya, sumber daya manusia di bidang broadcasting, khususnya TV, masih sangat langka. Indikasinya, lima stasiun TV baru -- yakni Metro TV, Lativi, Trans TV, Global TV, dan TV 7 -- terpaksa membajak SDM dari stasiun TV lain yang lebih tua.

Kesulitan TV Islam akan semakin bertambah dengan keharusan SDM -- khususnya SDM di bidang redaksi dan programing -- yang ditariknya musti memiliki pemahaman terhadap Islam yang cukup baik. Dengan kualifikasi seperti itu, bisa dipastikan saat ini jumlah mereka masih sangat sedikit.

Tapi tentunya, semua itu jangan dijadikan halangan bagi rencana mulia untuk mendirikan stasiun TV berita bernuansa Islami tadi. Artinya, siapa pun yang berniat mengembangkan saluran Islam, harus membekali diri dengan ekstra ''amunisi'', agar rencana itu tak cepat layu sebelum benar-benar berkembang.
Pesantren Dan TV Pesantren Dan TV Reviewed by marbun on 1:24 AM Rating: 5

Post AD